DI MANAKAH TUHAN ???

Posted: 11 September 2011 in RELIGI

MENEMUKAN TUHAN

Kalau kita menengok  ke  belakang,  mempelajari  kepercayaan
umat  manusia,  maka yang ditemukan adalah hampir semua umat
manusia mempercayai adanyaTuhan yang mengatur alam raya ini.
Orang-orang Yunani Kuno menganut paham politeisme (keyakinan
banyak tuhan): bintang adalah  tuhan  (dewa),  Venus  adalah
(tuhan)   Dewa  Kecantikan,  Mars  adalah  Dewa  Peperangan,
Minerva adalah  Dewa  Kekayaan,  sedangkan  Tuhan  tertinggi
adalah Apollo atau Dewa Matahari.

Orang-orang  Hindu  -masa lampau juga mempunyai banyak dewa,
yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Keyakinan  itu  tercermin
antara  lain  dalam  Hikayat  Mahabarata.  Masyarakat Mesir,
tidak terkecuali. Mereka meyakini  adanya  Dewa  Iziz,  Dewi
Oziris, dan yang tertinggi adalah Ra’. Masyarakat Persia pun
demikian, mereka percaya bahwa ada  Tuhan  Gelap  dan  Tuhan
Terang. Begitulah seterusnya.

Pengaruh  keyakinan  tersebut  merambah  ke masyarakat Arab,
walaupun jika mereka ditanya tentang Penguasa  dan  Pencipta
langit  dan bumi mereka menjawab, “Allah.” Tetapi dalam saat
yang sama mereka menyembah juga berhala-berhala Al-Lata, Al-
Uzza,  dan  Manata, tiga berhala terbesar mereka, di samping
ratusan berhala lainnya.

Al-Quran  datang  untuk  meluruskan  keyakinan  itu,  dengan
membawa ajaran tauhid. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan
wawasan Al-Quran tentang hal tersebut, meskipun harus diakui
bahwa   tulisan   ini   tidak   mungkin   dapat   menjangkau
keseluruhannya. Dapat  dibayangkan  betapa  luas  pembahasan
tentang  Tuhan  Yang  Maha Esa bila akan dirujuk keseluruhan
kata yang menunjuk-Nya. Kata  “Allah”  saja  dalam  Al-Quran
terulang  sebanyak  2697  kali. Belum lagi kata-kata semacam
Wahid, Ahad, Ar-Rab, Al-Ilah, atau  kalimat  yang  menafikan
adanya  sekutu  bagi-Nya  baik dalam perbuatan atau wewenang
menetapkan hukum, atau kewajaran beribadah kepada selain-Nya
serta   penegasian   lain   yang  semuanya  mengarah  kepada
penjelasan tentang tauhid.

FITRAH MANUSIA: KEYAKINAN TENTANG KEESAAN ALLAH

Kalau kita membuka lembaran-lembaran Al-Quran, hampir  tidak
ditemukan  ayat yang membicarakan wujud Tuhan. Bahkan Syaikh
Abdul  Halim  Mahmud  dalam  bukunya  Al-Islam  wa   Al-‘Aql
menegaskan  bahwa,  “Jangankan  Al-Quran,  Kitab Taurat, dan
Injil dalam bentuknya yang sekarang pun (Perjanjian Lama dan
Baru) tidak menguraikan tentang wujud Tuhan.” Ini disebabkan
karena wujud-Nya sedemikian  jelas,  dan  “terasa”  sehingga
tidak perlu dijelaskan.

Al-Quran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri
setiap  insan,  dan  bahwa  hal  tersebut  merupakan  fitrah
(bawaan)  manusia  sejak asal kejadiannya. Demikian dipahami
dari firman-Nya dalam surat Al-Rum (30): 30.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah  atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah  itu.  Tiada  perubahan  pada  fitrah  Allah.
(Itulah)  agama  yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui.”

Dalam ayat lain dikemukakan, bahwa:

“Dan  (ingatlah)  ketika  Tuhanmu   mengeluarkan   keturunan
anak-anak  Adam  dari  sulbi  mereka,  dan  Allah  mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah
Aku  ini  Tuhanmu?’  Mereka  menjawab:  ‘Betul (Engkau Tuhan
kami), kami menyaksikan'” (QS Al-A’raf [7]: 172).

Apabila Anda duduk termenung  seorang  diri,  pikiran  mulai
tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi,
terdengarlah  suara  nurani,  yang   mengajak   Anda   untuk
berdialog,  mendekat  bahkan  menyatu dengan suatu totalitas
wujud Yang Maha mutlak.

Suara itu mengantar Anda  untuk  menyadari  betapa  lemahnya
manusia dihadapan-Nya. dan betapa kuasa dan perkasa Dia Yang
Mahaagung itu. Suara yang Anda dengarkan itu,  adalah  suara
fitrah  manusia.  Setiap  orang  memiliki  fitrah  itu,  dan
terbawa serta  olehnya  sejak  kelahiran,  walau  seringkali
-karena kesibukan dan dosa-dosa- ia terabaikan, dan suaranya
begitu lemah sehingga  tidak  terdengar  lagi.  Tetapi  bila
diusahakan untuk didengarkan, kemudian benar-benar tertancap
di dalam jiwa, maka  akan  hilanglah  segala  ketergantungan
kepada  unsur-unsur  lain kecuali kepada Allah semata, tiada
tempat bergantung, tiada tempat  menitipkan  harapan,  tiada
tempat  mengabdi  kecuali kepada-Nya. La haula wa la quwwata
illa billahi-‘Aliyyil-‘Azhim (Tiada  daya  untuk  memperoleh
manfaat,  tiada  pula  kuasa  untuk menolak mudarat, kecuali
bersumber dari Allah Yang Mahatinggi  lagi  Mahaagung).  Dan
dengan  demikian  tidak  ada lagi rasa takut yang menghantui
atau mencengkeram, tiada pula rasa sedih yang akan mencekam.

Sesungguhnya orang-orang  yang  berkata  (berprinsip)  bahwa
Tuhan  Pemelihara  kami adalah Allah, serta istiqamah dengan
prinsip  itu,  akan  turun  kepada  mereka  malaikat  (untuk
menenangkan  mereka  sambil  berkata)  “Jangan takut, jangan
bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan”
(QS Fushshilat [41]: 30)

“Orang-orang  yang  beriman dan jiwa mereka menjadi tenteram
karena  mengingat  Allah.  Memang  hanya  dengan   mengingat
Allahlah jiwa menjadi tenteram” (QS Al-Ra’d [13]: 28).

Memang  boleh  jadi  ada  saat-saat dalam hidup ini -singkat
atau panjang-  dimana  manusia  mengalami  keraguan  tentang
wujud-Nya,  bahkan boleh jadi keraguan tersebut mengantarnya
untuk   menolak    kehadiran    Tuhan    dan    menanggalkan
kepercayaannya,  tetapi  ketika itu keraguannya akan beralih
menjadi kegelisahan, khususnya pada saat-saat ia merenung.

Di atas telah penulis katakan bahwa hampir  tidak  ditemukan
ayat  yang  membicarakan  tentang  wujud  Tuhan. Ini, karena
harus diakui bahwa ada beberapa  ayat  Al-Quran  yang  dapat
dipahami sebagai berbicara tentang wujud Tuhan, dan ada pula
beberapa ayat yang mengisyaratkan adanya segelintir  manusia
yang ateis. Misalnya,

“Dan  mereka  berkata,  ‘Kehidupan  ini  tidak lain hanyalah
kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak
ada  yang  membinasakan  kita selain masa.'” (QS Al-Jatsiyah
[45]: 24)

Namun seperti bunyi lanjutan ayat di atas,

“Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,
dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”

Bahkan boleh jadi kita dapat berkata bahwa mereka yang tidak
mempercayai wujud Tuhan adalah  orang-orang  yang  kehabisan
akal   dan   keras  kepala  ketika  berhadapan  dengan  satu
kenyataan yang tidak sesuai dengan “nafsu kotornya” itu.

Yang demikian dapat  dipahami  dari  ayat  yang  menguraikan
diskusi  yang  terjadi antara Nabi Ibrahim a.s. dan penguasa
masanya (Namrud) (QS  Al-Baqarah  [2]:  258),  atau  Fir’aun
ketika  berhadapan  dengan  Musa  a.s. yang bertanya, “Siapa
Tuhan semesta alam itu?” (QS Al-Syu’ara, 126]: 23).

Salah satu bukti bahwa pernyataan ini lahir dari sikap keras
kepala  adalah  pengakuan Fir’aun sendiri ketika ruhnya akan
meninggalkan   jasadnya.   Dalam   konteks   ini   Al-Quran,
menjelaskan  sikap  Fir’aun  yang  ketika itu kembali kepada
fitrah, namun sayang dia telah terlambat.

“… hingga saat Fir’aun telah hampir tenggelam,  berkatalah
dia.  ‘Saya  percaya  bahwa  tidak ada Tuhan melainkan Tuhan
yang  dipercayai  oleh  Bani  Israil,  dan   saya   termasuk
orang-orang  yang  berserah  diri  (kepada  Allah).’  Apakah
sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah
durhaka  sejak  dahulu  dan  kamu  termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan?” (QS Yunus [10]: 90-91).

Ayat  ini  sekaligus  membuktikan  bahwa   kehadiran   Tuhan
merupakan  fitrah manusia yang merupakan kebutuhan hidupnya.
Kalaupun  ada  yang   mengingkari   wujud   tersebut,   maka
pengingkaran  tersebut  bersifat sementara. Dalam arti bahwa
pada akhirnya -sebelum jiwanya berpisah dengan jasadnya-  ia
akan     mengakui-Nya.     Memang,     kebutuhan     manusia
bertingkat-tingkat, ada yang harus dipenuhi  segera  seperti
kebutuhan  udara, ada yang dapat ditangguhkan untuk beberapa
saat, seperti kebutuhan minum. Kebutuhan untuk makan,  dapat
ditangguhkan  lebih  lama daripada kebutuhan minuman, tetapi
kebutuhan pemenuhan seksual  bisa  lebih  lama  ditangguhkan
daripada   kebutuhan   pada   makan   dan   minum;  demikian
seterusnya. Kebutuhan yang paling  lama  dapat  ditangguhkan
adalah  kebutuhan  tentang keyakinan akan adanya Allah Swt.,
Tuhan Yang Maha Esa.

TAUHID ADALAH PRINSIP DASAR AGAMA SAMAWI

Merujuk kepada Al-Quran, dapat kita temukan bahwa para  Nabi
dan Rasul selalu membawa ajaran tauhid.

“Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali
Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada  Tuhan  selain  Aku,
maka sembahlah Aku” (QS Al-Anbiya’ [21]: 25).

“Wahai  kaumku,  sembahlah  Allah, sekali-kali tak ada Tuhan
bagimu selain-Nya.”

Demikian ucapan Nabi  Nuh,  Hud,  Shaleh  dan  Syu’aib  yang
diabadikan Al-Quran masing-masing secara berurut dalam surat
Al-A’raf (7): 59, 65, 73, dan 85.

Demikian juga ajaran yang diterima Musa a.s. langsung  dari
Allah:

“Aku  yang  memilihmu, maka dengarkan dengan tekun, apa yang
diwahyukan (padamu): ‘Sesungguhnya Aku adalah  Allah,  tidak
ada  Tuhan  selain Aku. Sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat
untuk mengingat-Ku'” (QS Thaha [20] 13-14)

Nabi Isa a.s. juga mengajarkan prinsip ini kepada umatnya:

“Isa  berkata  (kepada  Bani  Israil),  ‘Hai  Bani   Israil,
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesunguhnya siapa yang
mempersekutukan-Nya maka Allah mengharamkan  baginya  surga,
dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orarg
yang aniaya.” (QS Al-Maidah [5]: 72)

Namun, walaupun semua nabi membawa ajaran  tauhid,  terlihat
melalui   ayat-ayat   Al-Quran  bahwa  ada  perbedaan  dalam
pemaparan mereka tentang prinsip tauhid. Jelas sekali  bahwa
Nabi  Muhammad  Saw.,  melalui Al-Quran diperkaya oleh Allah
dengan  aneka  penjelasan  dan  bukti,  serta  jawaban  yang
membungkam siapa pun yang mempersekutukan Tuhan

Allah  Swt.  menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada
para Nabi-Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berpikir umat
mereka.  Karena  itu hampir tidak ada bukti-bukti logis yang
dikemukakan oleh Nabi Nuh kepada umatnya, dan pada  akhirnya
setelah  mereka  tetap  membangkang,  jatuhlah  sanksi  yang
memusnahkan mereka:

“Maka  topan  membinasakan   mereka,   dan   mereka   adalah
orang-orang aniaya” (QS Al-‘Ankabut [29]: 14).

Ketika  tiba  masa Nabi Hud a.s. -yang masanya belum terlalu
jauh dari Nuh- pemaparan beliau hampir tidak berbeda, tetapi
di  sana  sini  telah  jelas bahwa masyarakat yang diajaknya
berdialog, memiliki kemampuan berpikir sedikit di atas  umat
Nuh.  Karena  itu, pemaparan tentang tauhid yang dikemukakan
oleh   Hud   a.s.   disertai   dengan   peringatan   tentang
nikmat-nikmat  Allah  yang  mereka dapatkan. Dalam rangkaian
ayat-ayat yang mengingatkan mereka akan keesaan  Allah,  Hud
mengingatkan:

“Ingatlah  (nikmat  Allah)  oleh  kamu sekalian ketika Allah
menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang  berkuasa)
sesudah  lenyapnya  kaum  Nuh; dan Tuhan melebihkan kekuatan
tubuh dan perawakanmu (daripada  kaum  Nuh),  maka  ingatlah
nikmat-nikmat  Allah  supaya kamu mendapat keberuntungan (QS
Al-A’raf [7]:  69,  dan  juga  dalam  QS  Al-Syu’ara’  [26]:
123-140)

Nabi Shaleh yang datang sesudah Nabi Hud a.s. lebih luas dan
rinci penjelasannya, karena wawasan umatnya lebih luas pula.
Mereka misalnya diingatkan tentang asal kejadian mereka dari
tanah atau tugas mereka memakmurkan bumi (QS Hud [11]: 61).

Akal yang mampu mencerna dapat memahami bahwa asal  kejadian
manusia  berasal  dari  tanah  -dalam arti bahwa sperma yang
dituangkan  ke  rahim  istri  berasal  dari   makanan   yang
dihasilkan  oleh bumi. Manusia yang memiliki akal yang dapat
mencerna ini  atau  walau  hanya  memahaminya  secara  umum,
pastilah  lebih  mampu  dari  mereka yang sekadar dipaparkan
kepadanya nikmat-nikmat Ilahi, sebagaimana halnya  kaum  Hud
dan Nuh- Di samping itu ada bukti lain yang dikemukakan Nabi
Shaleh:

“Dan kepada Tsamud (Kami mengutus)  saudara  mereka  Shaleh.
Dia  berkata,  ‘Wahai  kaumku  sembahlah  Allah, sekali-kali
tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang
bukti  yang  sangat  nyata  kepadamu;  unta betina Allah ini
sebagai bukti untuk kamu …'” (QS Al-A’raf [7]: 73).

Ketika tiba masa Syu’aib, ajakan dakwahnya lebih luas  lagi,
melampaui batas yang disinggung oleh ketiga Nabi sebelumnya.
Kali  ini  ajaran  tauhid  tidak   saja   dikaitkan   dengan
bukti-bukti,  tetapi  juga  dirangkaikan  dengan hukum-hukum
syariat.

“Dan kepada penduduk Madyan (Kami mengutus)  saudara  mereka
Syu’aib.   Ia   berkata,   ‘Hai   kaumku,  sembahlah  Allah,
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.  Sesungguhnya
telah  datang  kepadamu  bukti  yang nyata dan Tuhanmu. Maka
sempurnakanlah takaran dan  timbangan,  dan  janganlah  kamu
kurangkan    bagi    manusia   barang-barang   takaran   dan
timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan  di  bumi
sesudah  Tuhan  memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik
bagimu, jika kamu  benar-benar  orang  yang  beriman.'”  (QS
Al-A’raf [7]: 85).

Ayat  ini  bahkan  menggugah  jiwa dan menuntut mereka untuk
membangun satu masyarakat yang penuh dengan  kemakmuran  dan
keadilan.

Setelah  itu,  datang  ajakan  Nabi  Ibrahim, yang merupakan
periode baru dari tuntunan tentang Ketuhanan Yang Maha  Esa.
Nabi  Ibrahim a.s. dikenal sebagai “Bapak Para Nabi,” “Bapak
Monoteisme,”  serta  “Proklamator  Keadilan  Ilahi”   karena
agama-agama  samawi terbesar dewasa ini merujuk kepada agama
beliau.

Ibrahim a.s.  menemukan  dan  membina  keyakinannya  melalui
pencarian    dan   pengalaman-pengalaman   keruhanian   yang
dilaluinya dan hal ini -secara Qurani- terbukti  bukan  saja
dalam  penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam,
sebagaimana diuraikan dalam surat Al-An’am ayat  75,  tetapi
juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan. Menarik untuk
diketahui bahwa beliaulah  satu-satunya  Nabi  yang  disebut
Al-Quran bermohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana
cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan  beliau  itu
dikabulkan Allah (QS Al-Baqarah [2]: 260)

Para  ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan
manusia yang  mempengaruhi  atau  bahkan  mengubah  jalannya
sejarah kemanusiaan. Tetapi, seperti ditulis Abbas Al-‘Aqqad
dalam Abu Al-Anbiyya’: “Penemuan yang dikaitkan dengan  Nabi
Ibrahim  a.s.  merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan
yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan.
Ia  tidak  dapat  dibandingkan  dengan  penemuan  roda, api,
listrik,  atau  rahasia-rahasia  atom  -betapapun   besarnya
pengaruh penemuan-penemuan tersebut- yang semua itu dikuasai
oleh manusia.  Penemuan  Ibrahim  menguasai  jiwa  dan  raga
manusia.   Penemuan  Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya
tunduk kepada  alam  menjadi  mampu  menguasai  alam,  serta
menilai baik buruknya.  Penemuan manusia dapat menjadikannya
berlaku sewenang-wenang,  tetapi  kesewenangan-wenangan  ini
tidak  mungkin  dilakukannya  selama  penemuan  Ibrahim a.s.
tetap menghiasi jiwanya.  Penemuan tersebut berkaitan dengan
apa   yang   diketahui   dan   tidak-diketahuinya  berkaitan
kedudukannya  sebagai  makhluk,  dan  hubungan  makhluk  ini
dengan Tuhan, alam raya, dan makhluk-makhluk sesamanya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s